Jumlah orang yang menganggur di Indonesia sedikit meningkat menjadi 6,88 juta pada bulan Februari 2020. Jumlah tersebut didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Jumlah ini tidak mencerminkan dampak wabah COVID-19 terhadap perekonomian saat ini.
Data BPS juga menunjukkan bahwa angka pengangguran tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Data tahun lalu menunjukkan angka 6,82 juta atau meningkat sebanyak 0,8 persen, lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu.
“Ini relatif datar meskipun ada peningkatan tingkat pengangguran di daerah yang berfokus pada pariwisata,” kata kepala BPS Suhariyanto saat konferensi pers pada hari Selasa, seperti dikutip dari The Jakarta Post. Beliau juga menambahkan bahwa pandemi COVID-19 telah mengambil “korban” pada sektor pariwisata sejak Februari.
Pada bulan April saja, data Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menunjukkan bahwa ada sebanyak 1.642 hotel ditutup sementara. Sementara data Kementerian Pariwisata mengungkapkan bahwa lebih dari 1,7 juta pekerja di sektor ini telah terkena dampak wabah COVID-19.
Namun, tingkat pengangguran terbuka Indonesia turun sedikit menjadi 4,99 persen di Februari dari 5,01 persen yang tercatat di bulan yang sama tahun lalu.
Suhariyanto mengatakan bahwa sektor informal tetap menjadi bagian penting dari tenaga kerja, yang menyumbang 56,5 persen dari lapangan kerja nasional pada bulan Februari, meskipun penurunan 0,77 poin persentase dari tahun ke tahun.
Data BPS juga menunjukkan bahwa sektor pendidikan dan kesehatan, di antara sektor-sektor lain, mempekerjakan sebagian besar orang pada bulan Februari tahun ini.
“Sementara itu, pekerjaan di beberapa sektor termasuk pertanian, perdagangan dan layanan lainnya menurun tahun ini,” katanya lebih lanjut.
Data pengangguran belum mencerminkan dampak keseluruhan dari pandemi, kata Suhariyanto, ketika pembatasan sosial berskala besar dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan daerah untuk mengekang penyebaran virus mulai berlaku pada bulan April.
Langkah-langkah ini telah meningkatkan pasar kerja, dengan 2,8 juta orang kehilangan pekerjaan, menurut Departemen Tenaga Kerja dan Badan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BPJS Ketenagakerjaan).
Pemerintah memperkirakan bahwa 2,9 juta hingga 5,2 juta pekerja dapat kehilangan pekerjaan selama wabah, yang akan menghapus keuntungan 2,5 juta pekerjaan baru tahun lalu.
Foto ilustrasi: Sri Harsha Gera (Pixabay). Sumber: The Jakarta Post.
